Banjir melanda Rantau Prapat setelah hujan deras semalaman, membuat pasar tradisional lumpuh total. Aktivitas warga terganggu, pedagang mengalami kerugian, dan petugas mulai melakukan penanganan.
Hujan deras yang mengguyur Rantau Prapat sejak tengah malam menyebabkan banjir meluas di sejumlah titik, termasuk kawasan pasar tradisional yang menjadi pusat ekonomi warga. Tingginya intensitas hujan membuat sistem saluran air tidak mampu menampung debit besar, sehingga air dengan cepat meluap dan menggenangi area pertokoan, kios, dan jalur akses utama menuju pasar. Akibatnya, aktivitas jual beli lumpuh total sejak pagi, meninggalkan pedagang dan pembeli dalam kondisi serba terbatas.
Saat pagi menjelang, air sudah terlihat menggenangi seluruh area pasar hingga setinggi betis hingga lutut orang dewasa. Jalan masuk yang biasanya dipadati kendaraan pengangkut barang kini berubah menjadi kolam besar berwarna keruh. Para pedagang yang datang lebih awal terpaksa menunda membuka lapak karena air terus naik. Banyak dari mereka berupaya menyelamatkan barang dagangan agar tidak rusak, terutama bahan makanan segar seperti sayuran, ikan, dan daging yang sangat sensitif terhadap kondisi lembap dan tercampur air banjir slot.
Beberapa pedagang mengaku mengalami kerugian cukup besar karena tidak mampu memindahkan semua barang tepat waktu. Kotak penyimpanan, tas plastik, dan rak-rak dagangan terpaksa ditinggalkan karena kesulitan mengatasi arus air yang masuk begitu cepat. Banyak yang memilih berteduh di bagian pasar yang sedikit lebih tinggi, sembari menunggu air surut. Namun, kondisi cuaca yang masih mendung membuat situasi tidak mudah diprediksi.
Di sisi lain, para pembeli yang telah merencanakan belanja pagi harus membatalkan aktivitas karena sulitnya akses menuju pasar. Transportasi warga juga terganggu karena sejumlah titik jalan di sekitar pasar ikut terendam. Sepeda motor banyak yang mogok karena mesin terendam air, sementara mobil harus melambat atau menunggu genangan air berkurang. Akibatnya, arus lalu lintas sempat tersendat, terutama di jam sibuk pagi ketika warga hendak berangkat bekerja.
Banjir yang melanda Rantau Prapat ini tidak hanya memukul sektor ekonomi, tapi juga menimbulkan kekhawatiran terkait kesehatan lingkungan. Air banjir yang bercampur dengan limbah pasar—seperti sampah sayuran, plastik, dan sisa makanan—menimbulkan bau tidak sedap dan potensi penyakit. Petugas kebersihan bersama relawan turun tangan untuk mengumpulkan sampah mengapung agar tidak menyumbat aliran drainase lebih parah.
Pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) langsung melakukan peninjauan begitu laporan banjir masuk dari warga. Mereka mendirikan posko sementara di sekitar pasar dan mengerahkan petugas untuk mengarahkan warga serta memberikan bantuan darurat. Beberapa pedagang yang kiosnya terendam cukup parah dievakuasi ke gedung-gedung sekitar yang lebih tinggi. Petugas medis juga disiagakan untuk menangani warga yang mengalami iritasi kulit atau keluhan kesehatan akibat kontak dengan air kotor.
Selain itu, BPBD melakukan pemeriksaan terhadap kondisi drainase di sekitar pasar dan menemukan banyak saluran yang mengalami penyumbatan. Tumpukan sedimen dan sampah yang mengeras membuat aliran air tersendat. Dengan bantuan alat berat, pembersihan dilakukan secara bertahap agar air cepat mengalir ke sungai terdekat. Meski demikian, upaya ini tidak bisa memberikan hasil instan karena hujan masih berpotensi turun kembali.
Warga dan pedagang berharap pemerintah melakukan penanganan jangka panjang untuk mencegah banjir serupa terjadi lagi. Pasar tradisional merupakan pusat ekonomi yang menjadi sumber penghasilan ribuan keluarga di Rantau Prapat. Jika banjir terus terjadi, bukan hanya aktivitas harian yang terdampak, tetapi juga stabilitas ekonomi lokal. Permintaan untuk memperbaiki sistem drainase, normalisasi sungai kecil, serta menambah titik resapan air semakin sering disuarakan oleh masyarakat.
Sejumlah tokoh masyarakat juga menyampaikan pentingnya kesadaran bersama untuk menjaga kebersihan lingkungan pasar. Banyaknya sampah yang dibuang sembarangan menjadi salah satu penyebab utama penyumbatan saluran. Warga diimbau membiasakan membuang sampah pada tempatnya, dan pedagang diminta lebih disiplin mengelola sampah dagangan agar tidak ikut terbawa arus hujan.
Hingga siang hari, banjir mulai menunjukkan tanda-tanda surut di beberapa titik, namun kawasan pasar masih belum dapat beroperasi normal. Para pedagang memanfaatkan waktu ini untuk membersihkan kios dan mengeringkan barang-barang yang masih bisa diselamatkan. Proses pemulihan diperkirakan membutuhkan waktu beberapa hari hingga kondisi benar-benar kembali stabil.
Banjir yang melanda Rantau Prapat menjadi pengingat bahwa musim penghujan memerlukan kewaspadaan tinggi dari semua pihak. Dengan langkah-langkah mitigasi yang lebih baik dan kerja sama antara pemerintah, pedagang, dan warga, potensi banjir ke depan diharapkan dapat diminimalkan sehingga ekonomi lokal tetap berjalan tanpa hambatan besar.
